Selasa, 19 Maret 2013

Planet Terkecil Ditemukan di Luar Tata Surya

 

California - Para astronom yang sedang mencari planet di luar sistem tata surya kita akhirnya menemukan planet terkecil sejauh ini, yang seukuran sekitar bulan.

Tapi para pencari kehidupan di dunia lain harus kembali berpaling karena planet itu terlalu dekat dengan mataharinya sendiri dan terlalu panas untuk bisa mendukung kehidupan. Temperatur permukaannya mencapai sekitar 700 derajat Fahrenheit (371 derajat Celsius) dan juga tidak memiliki atmosfer dan air di permukaannya yang berbatuan.

Astronom Geoff Marcy, salah satu pendiri cabang ilmu pencarian planet di University of California, Berkeley, menyebut penemuan mutakhir ini “benar-benar menggetarkan pikiran."

"Penemuan baru ini menambah gambaran bahwa alam semesta ini terisi penuh -- seperti buah jeli di mangkuk -- dengan planet-planet yang lebih kecil dari bumi," kata Marcy, yang tidak terlibat dalam riset baru ini.

Sudah hampir dua dasawarsa sejak planet pertama ditemukan di luar tata surya. Sejak itu, banyak sekali terjadi penemuan yang dipercepat dengan kemunculan teleskop Kepler buatan badan antariksa Amerika Serikat NASA pada 2009 untuk menemukan kembaran bumi. Sejauh ini, sudah 861 planet yang ditemukan namun baru-baru ini saja para ilmuwan bisa mendeteksi planet-planet yang seukuran atau lebih kecil dari bumi.

Meski para ilmuwan telah berteori tentang keberadaan dunia kehidupan lain yang lebih kecil dari Merkurius – planet terkecil di tata surya kita setelah Pluto dikeluarkan pada 2006 – mereka belum mampu menemukannya. Merkurius, planet terdekat dengan matahari, memiliki diameter duaperlima bumi, sedangkan planet yang baru ditemukan dan bulan yang mengitari bumi berukuran sepertiga bumi.

Planet kecil ini terdeteksi dengan Kepler, yang secara simultan melacak lebih dari 150.000 bintang dengan sedikit kilasan di saat terang – tanda adanya planet yang melintas di depan bintang itu. Planet baru ini diberi nama Kepler-37b yang mengorbit sebuah bintang jaraknya 210 tahun cahaya di konstelasi Lyra. Planet ini satu dari tiga planet yang terdeteksi di tata surya itu.

Sang penemu Thomas Barclay dari Ames Research Center milik NASA di bagian utara California begitu gembira ketika dia mengintip planet seukuran bulan itu selama berhari-hari, sampai dia mengutip sepenggal kalimat dari film Star Wars “tu bukan bulan.” Butuh lebih dari satu tahun dan sebuah tim internasional untuk memastikan temuannya adalah benar sebuah planet yang bonafid.

Penemuan ini dijelaskan rinci dalam edisi buletin Nature yang terbit Kamis (21/2) ini.
Para ilmuwan masih mencari planet seukuran bumi dalam zona yang dinamakan Goldilocks, yaitu tidak terlalu panas atau terlalu dingin sehingga air yang esensial bagi kehidupan bisa muncul di permukaan.

 

 

Minggu, 10 Maret 2013

BLACK HOLE
Lubang hitam M87, lubang hitam terbesar sementara di alam semestaBlack hole atau lubang hitam terbesar di alam semesta telah ditemukan dengan berat 6,8 miliar kali massa Matahari. Saking besarnya, lubang tersebut konon mampu menelan Bumi beserta seluruh isi tata surya.

Dengan ukuran cakrawala sebesar itu, diperkirakan seluruh isi tata surya tidak bisa melarikan diri dari tepi ini, termasuk cahaya sekali pun. Sebagai perbandingan, besarnya bisa mencapai empat kali lipat orbit planet Neptunus.

Lubang hitam itu terletak di M87. Sejauh ini, ia adalah galaksi terbesar yang terdekat dengan galaksi Bima Sakti. Jaraknya diperkirakan kurang lebih 50 juta tahun cahaya dari Bumi dan masih belum diketahui kapan 'monster' ini lahir.

Menilik ukurannya yang sangat raksasa, sejumlah ilmuwan menganggap lubang itu tercipta karena ratusan lubang hitam yang bergabung menjadi satu di masa lalu.

"Ia bisa menelan sistem tata surya kita," kata Karl Gebhardt, seorang ilmuwan asal University of Texas, Austin-AS, seperti dikutip dari All Voices, Minggu 16 Januari 2011.

Sebuah teleskop khusus di Hawaii digunakan oleh para ilmuwan untuk mengamati obyek yang diperkirakan memiliki berat dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dengan teleskop tersebut, Gebhardt dan timnya mampu mengamati obyek luar angkasa hingga kejauhan 500 km.

"Dan, lubang hitam raksasa ini adalah lubang hitam termasif dan terakurat yang pernah kami temukan," kata Astronom George Djorgovski dari California Institute of Technology di Pasadena.
PLANET GLIESE 581D





Sebelum ini, perhatian astronom justru fokus ke saudaranya, yakni planet Gliese 581g, setelah diketahui bahwa planet itu memiliki massa serupa dengan Bumi dan juga berada di dekat zona Goldilocks.Gliese 581d, sebuah planet bebatuan raksasa yang mengitari sebuah bintang red dwarf (bintang dengan massa lebih rendah dibanding Matahari dan bersuhu di bawah 4000 derajat Kelvin) dikonfirmasi sebagai planet pertama yang memenuhi persyaratan mampu menampung kehidupan.

Planet yang berjarak sekitar 20 tahun cahaya dari Bumi ini merupakan salah satu tetangga terdekat planet kita. Ia diperkirakan bersuhu cukup hangat dan cukup basah untuk menumbuh kembangkan kehidupan serupa yang dimiliki planet Bumi.

Gliese 581d mengorbit di zona Goldilocks (kawasan di mana kehidupan dimungkinkan terbentuk) milik bintang Gliese 581. Seperti diketahui, di Goldilocks zone, temperatur tidak terlalu panas sehingga menyebabkan air mendidih ataupun tidak terlalu dingin hingga membuatnya membeku namun  berada di suhu yang tepat agar air tetap dalam bentuk cair.

“Dengan atmosfir yang padat akan karbon dioksida, yang merupakan skenario paling memungkinkan untuk planet berukuran raksasa, iklim di Gliese 581d stabil dan cukup hangat untuk memiliki samudera, awan, dan curah hujan,” kata peneliti National Centre for Scientific Research (CNRS).

Dikutip dari Daily Galaxy, 19 Mei 2011, menurut penelitian yang dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters, Gliese 581d memiliki massa setidaknya 7 kali lipat dibanding Bumi berukuran sekitar 2 kali lipat planet Bumi.

Sebelum ini, perhatian astronom justru fokus ke saudaranya, yakni planet Gliese 581g, setelah diketahui bahwa planet tersebut memiliki massa serupa dengan massa Bumi dan juga berada di dekat zona Goldilocks.

Pertamakali ditemukan pada tahun 2007, Gliese 581d awalnya tidak masuk kandidat sebagai tempat untuk mencari kehidupan di luar Bumi. Salah satu alasannya adalah ia hanya mendapat sepertiga radiasi Matahari seperti yang didapat Bumi dan kemungkinan ‘tidally locked’ atau hanya satu sisi yang selalu menghadap mataharinya dan punya siang dan malam hari permanen.

Akan tetapi, pemodelan terbaru yang dibuat oleh Robin Wordsworth, Francois Forget, dan rekan-rekan ilmuwan CNRS lainnya menunjukkan hasil yang mengejutkan. Atmosfir planet itu mampu menyimpan panas berkat padatnya gas CO2 dan dihangatkan oleh cahaya dari bintangnya.

“Secara keseluruhan, temperatur di sana memungkinkan air cair hadir di permukaan planet itu,” kata peneliti. “Massa planet yang besar juga berarti gravitasi di permukaannya kurang lebih dua kali lipat dibanding gravitasi Bumi,” ucapnya.

Akan tetapi, tidak begitu saja peneliti bisa mengirimkan astronot ke planet itu. Dari Bumi, pesawat ruang angkasa yang mampu terbang dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun untuk tiba di sana. Sayangnya, teknologi roket yang sudah dimiliki umat manusia saat ini baru bisa mengantarkan kita ke Gliese 581d dalam waktu 300 ribu tahun.

Selasa, 19 Februari 2013

Kehidupan Mars Ada di Bawah Tanah? 

Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) telah memastikan bahwa asteroid 2012 DA14 tidak akan menabrak Bumi ketika batu angkasa itu melintas pada jarak 27.650 kilometer, tepat di atas Sumatera pada Sabtu, 16 Februari 2013. Namun di masa lalu, banyak asteroid mengancam bahkan menghantam Bumi dan meninggalkan bekas berupa kawah-kawah raksasa.

Kendati asteroid sebesar 45 meter ini tak sebesar asteroid yang dianggap memusnahkan dinosaurus (yang diperkirakan lebarnya 10 kilometer), 2012DA14 masih dapat menyebabkan kerusakan serius.

“Massanya sekitar 143.000 ton,” kata astronom NASA, Don Yeomans, dalam tulisan opini di New York Times. “Kalau obyek sebesar itu menabrak Bumi, asteroid tersebut akan menimbulkan ledakan dengan energi setara ledakan 2,4 juta ton TNT, 180 kali lipat lebih besar daripada ledakan bom atom yang meratakan Hiroshima.”

Yeomans dan ilmuwan lain di NASA menyatakan bahwa asteroid seukuran 2012 DA14 kemungkinan dapat menyebabkan kerusakan setara "Tunguska Event" di atas Sungai Tunguska di Siberia pada 1908. Pada saat itu, asteroid selebar 30 meter meledak di atmosfer, namun sanggup meluluhlantakkan pepohonan seluas 2.137 kilometer persegi di wilayah itu. Jika asteroid 2012 DA14 bakal menghantam Bumi, kata ilmuwan NASA, kemungkinan efeknya sama seperti batu angkasa di Tunguska.

“Dampak asteroid tidak akan menimbulkan bencana global, melainkan bencana regional saja,” kata Yeomans.

Peristiwa Tunguska terjadi ketika sebuah asteroid jatuh menembus atmosfer Bumi, memanaskan batu itu dan menyebabkannya meledak. Ledakan besar itu menciptakan hembusan angin dan gas panas yang menghancurkan semua material organik daratan di bawahnya.

Ledakan batu angkasa di udara bukan sesuatu yang langka. Pada akhir 2009, sebuah asteroid melepas energi setara 50 ribu kilogram TNT ketika batu angkasa itu meledak di atas Sulawesi. Menurut laporan NASA, batu angkasa itu diperkirakan berdiameter 5 hingga 10 meter.

Kendati Bumi akan terus-menerus dihujani oleh asteroid sepanjang umurnya, kita kemungkinan tak akan melihat tabrakan asteroid yang menghancurkan peradaban dalam waktu dekat ini. Peneliti NASA telah memetakan lintasan 90 persen obyek dekat Bumi yang berisiko menabrak planet ini. Sejauh ini, mereka tak menemukan ada jalur asteroid yang bakal menabrak Bumi.

Apa Jadinya Jika Asteroid 2012 DA14 Menabrak Bumi? 

Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) telah memastikan bahwa asteroid 2012 DA14 tidak akan menabrak Bumi ketika batu angkasa itu melintas pada jarak 27.650 kilometer, tepat di atas Sumatera pada Sabtu, 16 Februari 2013. Namun di masa lalu, banyak asteroid mengancam bahkan menghantam Bumi dan meninggalkan bekas berupa kawah-kawah raksasa.

Kendati asteroid sebesar 45 meter ini tak sebesar asteroid yang dianggap memusnahkan dinosaurus (yang diperkirakan lebarnya 10 kilometer), 2012DA14 masih dapat menyebabkan kerusakan serius.

“Massanya sekitar 143.000 ton,” kata astronom NASA, Don Yeomans, dalam tulisan opini di New York Times. “Kalau obyek sebesar itu menabrak Bumi, asteroid tersebut akan menimbulkan ledakan dengan energi setara ledakan 2,4 juta ton TNT, 180 kali lipat lebih besar daripada ledakan bom atom yang meratakan Hiroshima.”

Yeomans dan ilmuwan lain di NASA menyatakan bahwa asteroid seukuran 2012 DA14 kemungkinan dapat menyebabkan kerusakan setara "Tunguska Event" di atas Sungai Tunguska di Siberia pada 1908. Pada saat itu, asteroid selebar 30 meter meledak di atmosfer, namun sanggup meluluhlantakkan pepohonan seluas 2.137 kilometer persegi di wilayah itu. Jika asteroid 2012 DA14 bakal menghantam Bumi, kata ilmuwan NASA, kemungkinan efeknya sama seperti batu angkasa di Tunguska.

“Dampak asteroid tidak akan menimbulkan bencana global, melainkan bencana regional saja,” kata Yeomans.

Peristiwa Tunguska terjadi ketika sebuah asteroid jatuh menembus atmosfer Bumi, memanaskan batu itu dan menyebabkannya meledak. Ledakan besar itu menciptakan hembusan angin dan gas panas yang menghancurkan semua material organik daratan di bawahnya.

Ledakan batu angkasa di udara bukan sesuatu yang langka. Pada akhir 2009, sebuah asteroid melepas energi setara 50 ribu kilogram TNT ketika batu angkasa itu meledak di atas Sulawesi. Menurut laporan NASA, batu angkasa itu diperkirakan berdiameter 5 hingga 10 meter.

Kendati Bumi akan terus-menerus dihujani oleh asteroid sepanjang umurnya, kita kemungkinan tak akan melihat tabrakan asteroid yang menghancurkan peradaban dalam waktu dekat ini. Peneliti NASA telah memetakan lintasan 90 persen obyek dekat Bumi yang berisiko menabrak planet ini. Sejauh ini, mereka tak menemukan ada jalur asteroid yang bakal menabrak Bumi.